Tujuh Keuntungan Bersosialisasi untuk Kesehatan Tubuh

Makanan sehat dan olahraga teratur ternyata tak cukup untuk menjaga tubuh tetap sehat. Berdasar sebuah studi, kesepian bisa memberikan pengaruh negatif bagi kesehatan.

Setelah melakukan observasi pada 7 ribu orang dengan usia berbeda, diketahui bahwa kehidupan sosial bisa menentukan kesehatan tubuh, berikut alasannya seperti dilansir laman Boldsky.

Mencegah Depresi

Hidup bersosialisasi bisa mencegah depresi, dan untuk mereka yang telah mengalami depresi, hubungan sosial yang sehat bisa meningkatkan harga diri.

Mendorong daya ingat

Bermain teka teki silang terbukti bisa melatih pikiran dan kehidupan sosial juga memberikan pengaruh yang sama pada pikiran.

Meningkatkan kinerja mental

Ternyata, kehidupan sosial akan mempertajam kemampuan kognitif dan pikiran.

Mencegah kanker

Bersosialisasi bisa mencegah kanker tertentu, jadi jangan merasa bersalah bila telah menghabiskan waktu untuk bercengkerama dengan teman.

Umur panjang

Sebuah studi mengatakan bahwa orang yang aktif dan memiliki hubungan sosial yang sehat, bisa hidup lebih lama dibanding orang yang hidup mengisolasi dirinya.

Meningkatkan sistem imun

Selain memberikan kenangan yang indah, menghabiskan waktu bersama teman juga bisa meningkatkan sistem imun tubuh.

Mencegah stroke

Kehidupan bersosialisasi bisa mengurangi risiko stroke secara signifikan.


Ini Cara Ampuh Usir Bau Mulut Kronis

Jika bau mulut Anda sudah tak tertahankan, coba cara ini.
Ini Cara Ampuh Usir Bau Mulut Kronis
Seorang pria membersihkan mulut dengan mouth wash (wikihow)
Ada orang memiliki bau mulut yang menyengat. Meski sudah sikat gigi namun entah mengapa, bagi beberapa orang, ada bau mulutnya yang demikian kronis, sehingga aroma tak sedap sering keluar dari mulutnya.

Tentang hal ini, dokter Rahajeng dari laman Meetdoctor menjelaskan, ada beberapa tips untuk mengatasi bau mulut atau halitosis yang kronis.

Sikat gigi lebih dari sekali

Ya, minimal sikat gigi dua kali sehari, pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.

Bersihkan lidah

Pembersihan permukaan lidah secara teratur, dapat dilakukan dengan menggunakan sikat gigi lembut.

Gunakan mouth wash

Pakai obat kumur antibakteri untuk mengurangi pertumbuhan bakteri dalam mulut, sesuai anjuran dokter gigi.

Lakukan scaling

Pembersihan karang gigi dipercaya ampuh membuat bau mulut berkurang.

Tambal jika ada gigi bolong
Perbaiki dan lakukan penambalan gigi-gigi berlubang, hal ini efektif membuat aroma mulut terjaga.

Berhenti merokok

Pada kasus-kasus xerostomia atau mulut kering, dokter gigi mungkin akan memberi saliva buatan. Perbanyak minum air putih dan konsumsi sayur serta buah-buahan.

“Lakukan kunjungan secara teratur ke dokter gigi setiap enam bulan sekali untuk kontrol rutin dan pembersihan. Lakukan konsultasi dengan dokter bila halitosis berkaitan dengan penyakit sistemik. Jika sudah rajin menjaga kebersihan gigi, kemungkinan bau mulut yang diderita, diakibatkan penyakit sistemik,” ujar Rahajeng.
Wapres Jusuf Kalla di rumah dinas Wakil Presiden, Jakarta (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla menggelar rapat kerja bersama Menteri Kesehatan Nila F Moeloek dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Djalil di Kementerian Kesehatan, Rabu (21/10/2015). Rapat ini dimulai pukul 09.15 WIB dan berlangsung secara tertutup‎.
Dalam pembukaan rapat kerja, Juru Bicara Wakil Presiden Husain Abdullah mengatakan rapat ini dilakukan untuk mendorong masyarakat Indonesia untuk menjalankan perilaku hidup sehat.
"Kunker Wapres ke Kementrian Kesehatan ini pembahasan terkait upaya mengedepankan kegiatan promotif dan preventif kesehatan. Pak JK ingin mendorong perilaku hidup sehat," kata Husain.
JK, lanjut Husain, juga menegaskan pentingnya pencegahan dari pada mengobati penyakit. Oleh karena itu penting bagi masyarakat menjalankan pola hidup sehat.
"Bukan sekedar pengobatan tapi pencegahan," kata dia.
Setelah rapat ini, JK akan bertemu dengan Gubernur Aceh Zaini Abdullah di Kantor Wakil Presiden. Belum diketahui apa yang akan dibahas dari p‎ertemuan tersebut.
Kemudian, mulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, JK akan berada di Istana Merdeka bersama Presiden Jokowi untuk menerima kepala daerah se-Indonesia dan para Dirut BUMN. (Nil/Mut)

Baru-baru ini publik, khususnya para netizen tengah diramaikan dengan tren merangkak seperti balita untuk meningkatkn kesehatan.

Citizen6, China Dengan berkembangnya produk gadget dan bertambahnya pengguna internet saat ini membuat setiap orang bebas membuat atau memposting beragam hal di jejaring sosial. Bahkan, media sosial kini menjadi ajang mempopulerkan beragam tren.
Baru-baru ini publik, khususnya para netizen, tengah diramaikan dengan tren merangkak seperti balita untuk meningkatkan kesehatan. Dilansir CCTV, Jumat (23/10/2015), sekelompok warga Zhengzhou sedang menjadi sorotan masyarakat karena terlihat tengah menunjukkan aksi uniknya ketika merangkak di sepanjang jalan di Provinsi Henan, China.
Dalam foto yang kini beredar di linimasa, tampak setiap pagi mereka berlatih merangkak dengan menggunakan sarung tangan. Mereka bahkan melakukan latihan khusus untuk memperbaiki kesehatannya.
"Saya sudah berlatih merangkak sejak enam bulan lalu. Ini telah membantu meringankan rasa sakit di leher saya, dan tekanan darah juga turun," ucap seorang warga.Namun apakah merangkak ini dapat meningkatkan kesehatan seseorang? Seorang dokter bernama Lu mengatakan bahwa sebenarnya merangkak untuk kesehatan ini merupakan rutinitas yang diciptakan oleh dokter China kuno bernama Hua Tuo. Kegiatan itu biasanya dikenal dengan "Five Animal Frolics" yang menyarankan orang bekerja dengan meniru gerakan hewan.
"Merangkak dapat meringankan seluruh tubuh yang terasa berat seperti lengan dan kaki sehingga dapat melatih otot-otot yang jarang digerakkan ketika waktu normal," jelas Lu.
Bagaimana menurut Anda, apakah Anda tertarik mengikuti tren kesehatan ini? (Ul)*


Ilustrasi cara jitu menjaga kesehatan selama liburan

Liputan6.com, Jakarta Menghadapi libur panjang di akhir tahun 2015, tak ada salahnya untuk memuaskan dan memanjakan diri agar pikiran Anda tetap sehat.
Seperti dilansir dari HuffingtonPost pada Minggu (27/12), seorang pakar gizi, Dr. Darria Long Gillepsie mengatakan bahwa selama tidak berlebihan ketika Anda memuaskan diri dalam menjalani libur panjang, seperti makan enak dan bersantai, tidak jadi masalah. Kesehatan tubuh tidak hanya dipengaruhi oleh pola hidup dan makan yang sehat saja, tetapi juga dipengaruhi oleh pikiran yang bebas stres dan santai.
Liputan6.com merangkum beberapa hal yang bisa Anda lakukan ketika liburan tanpa harus terobsesi untuk selalu tetap sehat.
1. Luangkan waktu untuk orang terkasih akan memperpanjang usia Anda
Studi yang dilakukan oleh The RealAge Test menunjukkan bahwa memiliki hubungan dekat dengan orang sekitar dapat menambahkan usia Anda hampir dua tahun lamanya. Selain itu, kebiasaan ini akan menghindarkan Anda dari potensi serangan jantung dan kanker. Pikirkan untuk melakukan liburan bersama orang-orang terkasih Anda.
2. Jadilah seperti anak-anak (lagi)
Ketika berusia enam tahun, pernahkah Anda menghitung kalori? Tentu saja tidak. Anda mungkin sedang asyik bermain dengan teman, berlarian, atau berlompatan tanpa khawatir akan hal tersebut. Bercermin dari hal tersebut, memunculkan kembali sisi anak-anak Anda tidak ada salahnya. Dalam sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2014 dari Cornell Food and Brand Lab, para partisipan melakukan jalan-jalan keliling danau seolah mereka adalah anak kecil. Hasilnya banyak dari mereka merasa senang, segar dan seperti kembali muda.
3. Biarkan diri Anda memuaskan dirinya sendiri
Mengindari makanan? Terkadang menjaga kalori terlalu ketat akan membuat Anda stres dan justru mengganggu kesehatan. Sesekali mengonsumsi makanan favorit Anda tak ada salahnya selama tidak berlebihan. Justru, tubuh membutuhkan kalori dan pikiran yang senang, tenang, dan bahagia akan membuat kesehatan Anda terjaga dengan baik.
4. Bernyanyi dan menari dengan lagu-lagu liburan favorit Anda
Inti dari beberapa tips tersebut adalah membuat pikiran dan perasaan bahagia sehingga Anda jauh lebih sehat. Beberapa kegiatan yang bisa Anda lakukan, adalah bernyanyi dan menari. Menurut studi, dua kegiatan tersebut dapat mengurangi potensi penyakit Alzheimer.




“Yang bukan siapa-siapa, mana bisa mendapat apa-apa.” 

Raditya Dika telah curhat colongan seputar kisah asmaranya yang apes secara berturut-turut lewat Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, Cinta Dalam Kardus, hingga Manusia Setengah Salmon. Melalui garapan terbarunya yang sekaligus menandai debutnya sebagai sutradara film panjang, Marmut Merah Jambu, (lagi-lagi) Dika berkisah mengenai kehidupan percintaannya yang dirundung sial. Hanya saja, selayaknya Manusia Setengah Salmon, Marmut Merah Jambu tidak memberatkan seluruh isian penceritaan dengan asmara penuh duka lara tetapi juga mengupas tentang pertemanan, keluarga, dan sedikit memberikan sentuhan misteri ke dalamnya. Inilah yang menjadikan film terasa lebih mengikat. Menariknya lagi, Dika turut menyemprotkan aroma nostalgia SMA dalam Marmut Merah Jambu yang akan membuat penonton manapun (yang telah melewati masa-masa ini) membongkar setumpuk kenangan yang tersimpan indah (maupun pahit) di ingatan.  

Saat gadis yang dulu ditaksirnya saat SMA, Ina, hendak melangsungkan pernikahan, Dika (Raditya Dika) pun mengunjungi rumahnya dengan maksud memberi ucapan selamat sekaligus perpisahan. Tak bertemu secara langsung dengan Ina, Dika justru disambut oleh Bapak Ina (Tio Pakusadewo) yang membuat Dika mengilas balik masa lalunya untuk menceritakan awal mula perjumpaannya dengan Ina. Guliran kisah pun lantas melempar penonton kembali ke masa SMA dari Dika (Christoffer Nelwan) yang, yah... mengenaskan. Bersama dengan sang sahabat, Bertus (Julian Liberty), keduanya tergabung ke dalam kelompok siswa terbuang. Keberadaan mereka di sekolah nyaris tak terdeteksi. Termotivasi untuk menjadi populer dan mendapat pengakuan, Dika dan Bertus pun menciptakan grup detektif yang belakangan diramaikan pula oleh Cindy (Sonya Pandarmawan). Seolah tanpa kesulitan berarti, ketiganya mampu memecahkan beragam kasus di sekolah yang berdampak pada terangkatnya status sosial mereka. Dengan misi menjadi populer tercapai, kebahagiaan seharusnya menaungi mereka hingga Bertus dan Cindy menyadari misi utama Dika menciptakan grup detektif ini. 

Salah satu yang menjadi letak kekuatan dari karya-karya Raditya Dika adalah kesederhanaan dan kejeliannya dalam mengulik problematika yang lekat dengan pengalaman kebanyakan orang dengan ruang lingkup permasalahan yang hanya berkisar pada asmara, keluarga, dan persahabatan. Dibumbui humor yang menjadikannya memiliki cita rasa gurih, Dika tidak memilih orang lain sebagai korban candaan, melainkan tanpa rasa sungkan mengajukan diri sendiri untuk ditertawakan. Inilah yang membuat film komedi milik Raditya Dika terasa berbeda dari kebanyakan rilisan lokal, penonton diminta memiliki kebesaran hati agar bersedia menertawakan diri sendiri (dan Dika tentunya!). Sulit? Tidak juga. Walau ini berdampak kepada guyonannya yang sulit dicerna oleh sebagian penonton. Dalam Marmut Merah Jambu, Dika mengajak kita mengenang masa SMA, bertanya kepada diri sendiri perihal seberapa tinggi kepopuleran kita kala itu, lalu menertawakannya. Menyelami kehidupan remaja SMA menggunakan kacamata siswa terpinggirkan menjadikan film terasa mengasyikkan sekaligus membumi. 

Faktor lain yang memiliki pengaruh terhadap segarnya Marmut Merah Jambu disamping tatanan skripnya yang lezat adalah pemilihan cast yang tepat. Untuk sekali ini, Dika tak menanggung beban sendirian dalam menggerakkan poros cerita. Dia mendapat bantuan dari Christoffer Nelwan, Julian Liberty, Sonya Pandarmawan (mantan personil JKT48), serta Tio Pakusadewo yang masing-masing menyuguhkan performa yang menawan. Trio remaja Christoffer-Julian-Sonya mampu menunjukkan chemistry yang terasa begitu padu, meyakinkan, dan kocak. Bahkan saat ketiganya sedang tidak bersama, mereka berhasil tampil secara santai, seolah tanpa beban, dan lepas. Kejenakaan yang dimiliki oleh karakter yang mereka emban pun tersalurkan dengan cara yang begitu natural, tanpa pernah terlihat bersusah payah agar terkesan lucu, terutama untuk Christoffer Nelwan dan Julian Liberty (yang begitu mencuri perhatian di setiap kemunculannya). 
Dengan sokongan jajaran pemain yang solid, ditambah pula Raditya Dika begitu leluasa dalam menghantarkan gagasan-gagasannya dengan peranannya yang begitu besar di balik kemudi, maka tidak mengherankan Marmut Merah Jambu terasa lebih superior dan memiliki greget ketimbang film-film Dika yang terdahulu. Ada kejenakaan dan kehangatan yang ditimbulkan saat film menyoroti persahabatan Dika bersama sahabat-sahabatnya di SMA, ada rasa manis saat sisi romansa dari film timbul menyeruak, dan ada gemas-gemas penasaran saat sebuah kasus dilempar kepada grup detektif untuk dipecahkan, yang lantas dipersatukan oleh Dika dengan lancar menggunakan ramuan yang tepat. Alhasil, Marmut Merah Jambu pun terhidang sebagai sebuah tontonan yang unyu-unyu menggemaskan. Penggemar berat Dika akan terpuaskan, sementara mereka yang berasal dari barisan bukan penggemar akan tetap mampu menikmatinya. Asyik! 






“Saya bukannya nggak percaya sama kamu, tapi saya memang nggak percaya sama siapa-siapa.” - Bangun 


Baiklah. Izinkan saya untuk menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum mulai mengatakan sesuatu... dan saya pun mengizinkan Anda untuk bersiap-siap diliputi rasa penasaran atau (mungkin) beragam nyinyiran karena ulasan yang hendak Anda baca ini mungkin sedikit bernada hiperbolis. Ya, begitu sulit untuk tidak meluapkan kegembiraan setelah menyaksikan The Raid 2: Berandal. Segenap ekspektasi yang telah saya tanamkan untuk film ini, dilampaui dengan begitu mudahnya. Jika apa yang membuat Anda jatuh hati di jilid pertama adalah kegilaan aksinya, maka Gareth Evans meningkatkannya hingga berlipat-lipat di sini dengan kekerasan yang tak tertahankan. Jika jalinan pengisahan yang sedemikian tipis di film sebelumnya membuat Anda mendengus kecewa, maka Gareth Evans melunasinya di sini melalui tuturan yang lebih kompleks dan membutuhkan sedikit perhatian untuk bisa mencernanya dengan baik. Gareth Evans tidak lagi bermain-main demi terwujudnya sebuah sekuel yang epik... dan itu memang terwujud dalam The Raid 2: Berandal

Berselang dua jam setelah berhasil melepaskan diri dari gedung bertingkat yang mematikan – setting utama dan satu-satunya di The Raid – Rama (Iko Uwais) masih belum diizinkan untuk mengistirahatkan jiwa raganya serta menikmati segarnya hembusan angin kebebasan. Bunawar (Cok Simbara), pemimpin satuan anti korupsi di Indonesia, merekrutnya untuk melakoni sebuah misi penting yakni menyibak identitas para polisi kotor. Untuk menuntaskan misi ini secara sempurna, Rama pun kudu rela dipenjara selama menahun demi mendekati dan menjalin persahabatan dengan Uco (Arifin Putra), anak laki-laki bos mafia terpandang, Bangun (Tio Pakusadewo). Melalui jaringan yang dibentuknya ini, Rama yang menyamarkan namanya menjadi Yudha pun terseret ke dalam dunia mafia yang dipenuhi intrik berselimut darah, keserakahan, dan pengkhianatan. Satu-satunya jalan (dan pilihan) yang dimiliki oleh Rama agar bisa meloloskan diri adalah menyelesaikan apa yang telah dimulainya. Tidak ada yang lain. 

Mengikuti tradisi sekuel yang umumnya memiliki cakupan skala yang lebih besar, maka seperti itulah Gareth Evans menyajikan The Raid 2: Berandal. Tatkala The Raid cenderung mengalir secara linear dan vertikal dengan jalinan penceritaan yang seolah hanya ditulis “masuk, bertarung, keluar”, tidak halnya dengan The Raid 2: Berandal. Tatanan naskah mendapat perhatian lebih, untuk sekali ini, menjawab keluhan sejumlah penonton yang merasa plot film pertama kelewat ‘kering’. Ada sesuatu lain yang kudu disimak oleh penonton tatkala melihat darah yang menyembur kemana-mana dan mendengar tulang-tulang retak. Konflik yang dikedepankan terbilang cukup kompleks dengan melibatkan tidak hanya satu tokoh... tetapi berbagai macam tokoh! Jika sebelumnya Rama hanya perlu mewaspadai Tama dan Mad Dog (yang legendaris itu), maka di kasus ini, Rama kudu berhadapan dengan Uco, Bangun, Eka (Oka Antara), dan Bejo (Alex Abbad). Oh, bahkan saya belum menyebutkan The Assassin (Cecep Arif Rahman) yang tak kalah beringas dari Mad Dog, kakak beradik maha sadis Hammer Girl (Julie Estelle) dan Baseball Bat Man (Very Tri Yulisman), serta pihak keluarga Goto! 

The Raid 2: Berandal memang menghabiskan sebagian besar waktunya di paruh pertama untuk berceloteh seputar dunia kelam yang akan disinggahi Rama untuk sementara. Apakah ini berarti menjemukan? Tidak juga. Beragam intrik yang dikulik – walau tak saya pungkiri, ada kalanya terasa kelewat panjang – mampu membetot perhatian dan memberi rasa penasaran terhadap penonton untuk mengikuti lebih jauh. Film pun tak hanya berada di ranah action, namun juga merangkul crime-thriller. Penggalian kisah ini memang memberikan dampak kepada gelaran aksi yang tidak lagi tanpa putus seperti sang pendahulu, namun Anda tak perlu risau jilid kedua ini akan menjadi kekurangan amunisi. Bahkan di tengah-tengah percakapan yang seolah berlangsung ‘aman-aman saja’, pertumpahan darah bisa saja terjadi. Anda tidak pernah bisa menebak kapan dan dimana pertarungan akan berlangsung. 
Setidaknya ada tiga pertarungan akbar dalam The Raid 2: Berandal yang begitu membekas hingga saya melangkahkan kaki ke luar gedung bioskop; ‘mud’, ‘threesome’, dan ‘kitchen’. Ya, saya sengaja menyebutnya dalam bentuk kode lantaran tak ingin merusak kesenangan Anda sebelum mencicipi film ini. Yang jelas, ketiganya dirangkai menggunakan koreografi rumit yang membutuhkan presisi, tangkapan kamera yang dinamis, editing yang cekatan, dan alunan musik skoring yang menghentak, sehingga saat menyaksikannya... sungguh sulit untuk bernafas! Berlangsung sedemikian intens-nya, Anda mungkin akan bersorak sorai dan bertepuk tangan saat segalanya berakhir. Evans menggambarkannya menjadi lebih liar, lebih menggila, lebih brutal, lebih indah (ditilik dari sisi style), dan lebih megah dari sebelumnya. Jika Anda menganggap penghancuran shelter busway – terlihat di trailer – sudah terasa wow, percayalah... itu tidak ada apa-apanya dengan semua kekacauan yang terjadi di sini! 

The Raid 2: Berandal menunjukkan bagaimana sebuah sekuel seharusnya dibuat. Seluruh elemen terbaik yang dimiliki oleh seri pembukanya dihadirkan kembali untuk kemudian ditambah elemen baru yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Beragam bentuk bela diri dalam bentuk hantaman, pukulan, tendangan, sampai bacokan yang berlangsung dimanapun (klub malam, rumah makan, koridor sempit, klub malam, dan pabrik pembuatan film porno) kapanpun tentu ada di sini, tapi tahukah Anda bahwa film produksi Merantau Films ini juga mempunyai salah satu car chase scene terkeren yang pernah ada? Dan, oh... The Raid 2: Berandal pun menghadirkan performa cantik dari para pelakonnya yang dipersembahkan oleh Arifin Putra, Alex Abbad dan Julie Estelle. Bahkan, yang lebih mengesankan adalah, dengan durasi yang merentang panjang hingga mencapai 148 menit, The Raid 2: Berandal sama sekali tidak terasa membosankan atau melelahkan. Malah, saya ingin menontonnya lagi dan lagi. Sangat memuaskan.

Outstanding