Makanan sehat dan olahraga teratur
ternyata tak cukup untuk menjaga tubuh tetap sehat. Berdasar sebuah
studi, kesepian bisa memberikan pengaruh negatif bagi kesehatan.
Setelah melakukan observasi pada 7 ribu orang dengan usia berbeda,
diketahui bahwa kehidupan sosial bisa menentukan kesehatan tubuh,
berikut alasannya seperti dilansir laman Boldsky.
Mencegah Depresi
Hidup bersosialisasi bisa mencegah depresi, dan untuk mereka yang
telah mengalami depresi, hubungan sosial yang sehat bisa meningkatkan
harga diri.
Mendorong daya ingat
Bermain teka teki silang terbukti bisa melatih pikiran dan kehidupan sosial juga memberikan pengaruh yang sama pada pikiran.
Meningkatkan kinerja mental
Ternyata, kehidupan sosial akan mempertajam kemampuan kognitif dan pikiran.
Mencegah kanker
Bersosialisasi bisa mencegah kanker tertentu, jadi jangan merasa
bersalah bila telah menghabiskan waktu untuk bercengkerama dengan teman.
Umur panjang
Sebuah studi mengatakan bahwa orang yang aktif dan memiliki
hubungan sosial yang sehat, bisa hidup lebih lama dibanding orang yang
hidup mengisolasi dirinya.
Meningkatkan sistem imun
Selain memberikan kenangan yang indah, menghabiskan waktu bersama teman juga bisa meningkatkan sistem imun tubuh.
Mencegah stroke
Kehidupan bersosialisasi bisa mengurangi risiko stroke secara signifikan.
Ini Cara Ampuh Usir Bau Mulut Kronis
Jika bau mulut Anda sudah tak tertahankan, coba cara ini.
Minggu, 3 Januari 2016 | 14:52 WIB
Oleh :
Ricky Anderson
Seorang pria membersihkan mulut dengan mouth wash (wikihow)
Ada orang memiliki bau mulut yang
menyengat. Meski sudah sikat gigi namun entah mengapa, bagi beberapa
orang, ada bau mulutnya yang demikian kronis, sehingga aroma tak sedap
sering keluar dari mulutnya.
Tentang hal ini, dokter Rahajeng dari laman Meetdoctor menjelaskan, ada beberapa tips untuk mengatasi bau mulut atau halitosis yang kronis.
Sikat gigi lebih dari sekali
Ya, minimal sikat gigi dua kali sehari, pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.
Bersihkan lidah
Pembersihan permukaan lidah secara teratur, dapat dilakukan dengan menggunakan sikat gigi lembut.
Gunakan mouth wash
Pakai obat kumur antibakteri untuk mengurangi pertumbuhan bakteri dalam mulut, sesuai anjuran dokter gigi.
Lakukan scaling
Pembersihan karang gigi dipercaya ampuh membuat bau mulut berkurang.
Tambal jika ada gigi bolong Perbaiki dan lakukan penambalan gigi-gigi berlubang, hal ini efektif membuat aroma mulut terjaga.
Berhenti merokok
Pada
kasus-kasus xerostomia atau mulut kering, dokter gigi mungkin akan
memberi saliva buatan. Perbanyak minum air putih dan konsumsi sayur
serta buah-buahan.
“Lakukan kunjungan secara teratur ke dokter
gigi setiap enam bulan sekali untuk kontrol rutin dan pembersihan.
Lakukan konsultasi dengan dokter bila halitosis berkaitan dengan
penyakit sistemik. Jika sudah rajin menjaga kebersihan gigi, kemungkinan
bau mulut yang diderita, diakibatkan penyakit sistemik,” ujar Rahajeng.
Liputan6.com, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla menggelar rapat kerja bersama Menteri Kesehatan Nila F Moeloek
dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Djalil di
Kementerian Kesehatan, Rabu (21/10/2015). Rapat ini dimulai pukul 09.15
WIB dan berlangsung secara tertutup.
Dalam pembukaan rapat kerja, Juru Bicara Wakil Presiden Husain
Abdullah mengatakan rapat ini dilakukan untuk mendorong masyarakat
Indonesia untuk menjalankan perilaku hidup sehat.
"Kunker Wapres ke Kementrian Kesehatan ini pembahasan terkait upaya
mengedepankan kegiatan promotif dan preventif kesehatan. Pak JK ingin
mendorong perilaku hidup sehat," kata Husain.
JK, lanjut Husain, juga menegaskan pentingnya pencegahan dari pada
mengobati penyakit. Oleh karena itu penting bagi masyarakat menjalankan
pola hidup sehat.
"Bukan sekedar pengobatan tapi pencegahan," kata dia.
Setelah rapat ini, JK akan bertemu dengan Gubernur Aceh Zaini
Abdullah di Kantor Wakil Presiden. Belum diketahui apa yang akan dibahas
dari pertemuan tersebut.
Kemudian, mulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, JK akan berada di Istana Merdeka bersama Presiden Jokowi untuk menerima kepala daerah se-Indonesia dan para Dirut BUMN. (Nil/Mut)
Citizen6, China Dengan berkembangnya produk gadget dan
bertambahnya pengguna internet saat ini membuat setiap orang bebas
membuat atau memposting beragam hal di jejaring sosial. Bahkan, media
sosial kini menjadi ajang mempopulerkan beragam tren.
Baru-baru ini publik, khususnya para netizen, tengah diramaikan
dengan tren merangkak seperti balita untuk meningkatkan kesehatan.
Dilansir CCTV, Jumat (23/10/2015), sekelompok warga Zhengzhou sedang
menjadi sorotan masyarakat karena terlihat tengah menunjukkan aksi
uniknya ketika merangkak di sepanjang jalan di Provinsi Henan, China.
Dalam foto yang kini beredar di linimasa, tampak setiap pagi mereka
berlatih merangkak dengan menggunakan sarung tangan. Mereka bahkan
melakukan latihan khusus untuk memperbaiki kesehatannya.
"Saya sudah berlatih merangkak sejak enam bulan lalu. Ini telah
membantu meringankan rasa sakit di leher saya, dan tekanan darah juga
turun," ucap seorang warga.Namun apakah merangkak ini dapat meningkatkan kesehatan seseorang?
Seorang dokter bernama Lu mengatakan bahwa sebenarnya merangkak untuk
kesehatan ini merupakan rutinitas yang diciptakan oleh dokter China kuno
bernama Hua Tuo. Kegiatan itu biasanya dikenal dengan "Five Animal
Frolics" yang menyarankan orang bekerja dengan meniru gerakan hewan.
"Merangkak dapat meringankan seluruh tubuh yang terasa berat seperti
lengan dan kaki sehingga dapat melatih otot-otot yang jarang digerakkan
ketika waktu normal," jelas Lu.
Bagaimana menurut Anda, apakah Anda tertarik mengikuti tren kesehatan ini? (Ul)*
Liputan6.com, Jakarta Menghadapi libur panjang di akhir tahun 2015, tak ada salahnya untuk memuaskan dan memanjakan diri agar pikiran Anda tetap sehat.
Seperti dilansir dari HuffingtonPost pada Minggu (27/12), seorang
pakar gizi, Dr. Darria Long Gillepsie mengatakan bahwa selama tidak
berlebihan ketika Anda memuaskan diri dalam menjalani libur panjang,
seperti makan enak dan bersantai, tidak jadi masalah. Kesehatan tubuh
tidak hanya dipengaruhi oleh pola hidup dan makan yang sehat saja,
tetapi juga dipengaruhi oleh pikiran yang bebas stres dan santai.
Liputan6.com merangkum beberapa hal yang bisa Anda lakukan ketika liburan tanpa harus terobsesi untuk selalu tetap sehat. 1. Luangkan waktu untuk orang terkasih akan memperpanjang usia Anda
Studi yang dilakukan oleh The RealAge Test menunjukkan bahwa memiliki
hubungan dekat dengan orang sekitar dapat menambahkan usia Anda hampir
dua tahun lamanya. Selain itu, kebiasaan ini akan menghindarkan Anda
dari potensi serangan jantung dan kanker. Pikirkan untuk melakukan
liburan bersama orang-orang terkasih Anda. 2. Jadilah seperti anak-anak (lagi)
Ketika berusia enam tahun, pernahkah Anda menghitung kalori? Tentu
saja tidak. Anda mungkin sedang asyik bermain dengan teman, berlarian,
atau berlompatan tanpa khawatir akan hal tersebut. Bercermin dari hal
tersebut, memunculkan kembali sisi anak-anak Anda tidak ada salahnya.
Dalam sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2014 dari Cornell Food and
Brand Lab, para partisipan melakukan jalan-jalan keliling danau seolah
mereka adalah anak kecil. Hasilnya banyak dari mereka merasa senang,
segar dan seperti kembali muda. 3. Biarkan diri Anda memuaskan dirinya sendiri
Mengindari makanan? Terkadang menjaga kalori terlalu ketat akan
membuat Anda stres dan justru mengganggu kesehatan. Sesekali mengonsumsi
makanan favorit Anda tak ada salahnya selama tidak berlebihan. Justru,
tubuh membutuhkan kalori dan pikiran yang senang, tenang, dan bahagia
akan membuat kesehatan Anda terjaga dengan baik. 4. Bernyanyi dan menari dengan lagu-lagu liburan favorit Anda
Inti dari beberapa tips tersebut adalah membuat pikiran dan perasaan
bahagia sehingga Anda jauh lebih sehat. Beberapa kegiatan yang bisa Anda
lakukan, adalah bernyanyi dan menari. Menurut studi, dua kegiatan
tersebut dapat mengurangi potensi penyakit Alzheimer.
“Yang bukan siapa-siapa, mana bisa mendapat apa-apa.”
Raditya Dika telah curhat colongan seputar kisah asmaranya yang apes secara berturut-turut lewat Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, Cinta Dalam Kardus, hingga Manusia Setengah Salmon. Melalui garapan terbarunya yang sekaligus menandai debutnya sebagai sutradara film panjang, Marmut Merah Jambu, (lagi-lagi) Dika berkisah mengenai kehidupan percintaannya yang dirundung sial. Hanya saja, selayaknya Manusia Setengah Salmon, Marmut Merah Jambu
tidak memberatkan seluruh isian penceritaan dengan asmara penuh duka
lara tetapi juga mengupas tentang pertemanan, keluarga, dan sedikit
memberikan sentuhan misteri ke dalamnya. Inilah yang menjadikan film
terasa lebih mengikat. Menariknya lagi, Dika turut menyemprotkan aroma
nostalgia SMA dalam Marmut Merah Jambu yang akan membuat penonton
manapun (yang telah melewati masa-masa ini) membongkar setumpuk
kenangan yang tersimpan indah (maupun pahit) di ingatan.
Saat
gadis yang dulu ditaksirnya saat SMA, Ina, hendak melangsungkan
pernikahan, Dika (Raditya Dika) pun mengunjungi rumahnya dengan maksud
memberi ucapan selamat sekaligus perpisahan. Tak bertemu secara langsung
dengan Ina, Dika justru disambut oleh Bapak Ina (Tio Pakusadewo) yang
membuat Dika mengilas balik masa lalunya untuk menceritakan awal mula
perjumpaannya dengan Ina. Guliran kisah pun lantas melempar penonton
kembali ke masa SMA dari Dika (Christoffer Nelwan) yang, yah...
mengenaskan. Bersama dengan sang sahabat, Bertus (Julian Liberty),
keduanya tergabung ke dalam kelompok siswa terbuang. Keberadaan mereka
di sekolah nyaris tak terdeteksi. Termotivasi untuk menjadi populer dan
mendapat pengakuan, Dika dan Bertus pun menciptakan grup detektif yang
belakangan diramaikan pula oleh Cindy (Sonya Pandarmawan). Seolah tanpa
kesulitan berarti, ketiganya mampu memecahkan beragam kasus di sekolah
yang berdampak pada terangkatnya status sosial mereka. Dengan misi
menjadi populer tercapai, kebahagiaan seharusnya menaungi mereka hingga
Bertus dan Cindy menyadari misi utama Dika menciptakan grup detektif
ini.
Salah
satu yang menjadi letak kekuatan dari karya-karya Raditya Dika adalah
kesederhanaan dan kejeliannya dalam mengulik problematika yang lekat
dengan pengalaman kebanyakan orang dengan ruang lingkup permasalahan
yang hanya berkisar pada asmara, keluarga, dan persahabatan. Dibumbui
humor yang menjadikannya memiliki cita rasa gurih, Dika tidak memilih
orang lain sebagai korban candaan, melainkan tanpa rasa sungkan
mengajukan diri sendiri untuk ditertawakan. Inilah yang membuat film
komedi milik Raditya Dika terasa berbeda dari kebanyakan rilisan lokal,
penonton diminta memiliki kebesaran hati agar bersedia menertawakan diri
sendiri (dan Dika tentunya!). Sulit? Tidak juga. Walau ini berdampak
kepada guyonannya yang sulit dicerna oleh sebagian penonton. Dalam Marmut Merah Jambu,
Dika mengajak kita mengenang masa SMA, bertanya kepada diri sendiri
perihal seberapa tinggi kepopuleran kita kala itu, lalu menertawakannya.
Menyelami kehidupan remaja SMA menggunakan kacamata siswa terpinggirkan
menjadikan film terasa mengasyikkan sekaligus membumi.
Faktor lain yang memiliki pengaruh terhadap segarnya Marmut Merah Jambu
disamping tatanan skripnya yang lezat adalah pemilihan cast yang tepat.
Untuk sekali ini, Dika tak menanggung beban sendirian dalam
menggerakkan poros cerita. Dia mendapat bantuan dari Christoffer Nelwan,
Julian Liberty, Sonya Pandarmawan (mantan personil JKT48), serta Tio
Pakusadewo yang masing-masing menyuguhkan performa yang menawan. Trio
remaja Christoffer-Julian-Sonya mampu menunjukkan chemistry yang
terasa begitu padu, meyakinkan, dan kocak. Bahkan saat ketiganya sedang
tidak bersama, mereka berhasil tampil secara santai, seolah tanpa beban,
dan lepas. Kejenakaan yang dimiliki oleh karakter yang mereka emban pun
tersalurkan dengan cara yang begitu natural, tanpa pernah terlihat
bersusah payah agar terkesan lucu, terutama untuk Christoffer Nelwan dan
Julian Liberty (yang begitu mencuri perhatian di setiap
kemunculannya).
Dengan
sokongan jajaran pemain yang solid, ditambah pula Raditya Dika begitu
leluasa dalam menghantarkan gagasan-gagasannya dengan peranannya yang
begitu besar di balik kemudi, maka tidak mengherankan Marmut Merah Jambu
terasa lebih superior dan memiliki greget ketimbang film-film Dika yang
terdahulu. Ada kejenakaan dan kehangatan yang ditimbulkan saat film
menyoroti persahabatan Dika bersama sahabat-sahabatnya di SMA, ada rasa
manis saat sisi romansa dari film timbul menyeruak, dan ada gemas-gemas
penasaran saat sebuah kasus dilempar kepada grup detektif untuk
dipecahkan, yang lantas dipersatukan oleh Dika dengan lancar menggunakan
ramuan yang tepat. Alhasil, Marmut Merah Jambu pun terhidang
sebagai sebuah tontonan yang unyu-unyu menggemaskan. Penggemar berat
Dika akan terpuaskan, sementara mereka yang berasal dari barisan bukan
penggemar akan tetap mampu menikmatinya. Asyik!
“Saya bukannya nggak percaya sama kamu, tapi saya memang nggak percaya sama siapa-siapa.” - Bangun
Baiklah.
Izinkan saya untuk menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum
mulai mengatakan sesuatu... dan saya pun mengizinkan Anda untuk
bersiap-siap diliputi rasa penasaran atau (mungkin) beragam nyinyiran
karena ulasan yang hendak Anda baca ini mungkin sedikit bernada
hiperbolis. Ya, begitu sulit untuk tidak meluapkan kegembiraan setelah
menyaksikan The Raid 2: Berandal. Segenap ekspektasi yang telah
saya tanamkan untuk film ini, dilampaui dengan begitu mudahnya. Jika apa
yang membuat Anda jatuh hati di jilid pertama adalah kegilaan aksinya,
maka Gareth Evans meningkatkannya hingga berlipat-lipat di sini dengan
kekerasan yang tak tertahankan. Jika jalinan pengisahan yang sedemikian
tipis di film sebelumnya membuat Anda mendengus kecewa, maka Gareth
Evans melunasinya di sini melalui tuturan yang lebih kompleks dan
membutuhkan sedikit perhatian untuk bisa mencernanya dengan baik. Gareth
Evans tidak lagi bermain-main demi terwujudnya sebuah sekuel yang
epik... dan itu memang terwujud dalam The Raid 2: Berandal!
Berselang dua jam setelah berhasil melepaskan diri dari gedung bertingkat yang mematikan – setting utama dan satu-satunya di The Raid
– Rama (Iko Uwais) masih belum diizinkan untuk mengistirahatkan jiwa
raganya serta menikmati segarnya hembusan angin kebebasan. Bunawar (Cok
Simbara), pemimpin satuan anti korupsi di Indonesia, merekrutnya untuk
melakoni sebuah misi penting yakni menyibak identitas para polisi kotor.
Untuk menuntaskan misi ini secara sempurna, Rama pun kudu rela
dipenjara selama menahun demi mendekati dan menjalin persahabatan dengan
Uco (Arifin Putra), anak laki-laki bos mafia terpandang, Bangun (Tio
Pakusadewo). Melalui jaringan yang dibentuknya ini, Rama yang
menyamarkan namanya menjadi Yudha pun terseret ke dalam dunia mafia yang
dipenuhi intrik berselimut darah, keserakahan, dan pengkhianatan.
Satu-satunya jalan (dan pilihan) yang dimiliki oleh Rama agar bisa
meloloskan diri adalah menyelesaikan apa yang telah dimulainya. Tidak
ada yang lain.
Mengikuti tradisi sekuel yang umumnya memiliki cakupan skala yang lebih besar, maka seperti itulah Gareth Evans menyajikan The Raid 2: Berandal. Tatkala The Raid
cenderung mengalir secara linear dan vertikal dengan jalinan
penceritaan yang seolah hanya ditulis “masuk, bertarung, keluar”, tidak
halnya dengan The Raid 2: Berandal. Tatanan naskah mendapat
perhatian lebih, untuk sekali ini, menjawab keluhan sejumlah penonton
yang merasa plot film pertama kelewat ‘kering’. Ada sesuatu lain yang
kudu disimak oleh penonton tatkala melihat darah yang menyembur
kemana-mana dan mendengar tulang-tulang retak. Konflik yang dikedepankan
terbilang cukup kompleks dengan melibatkan tidak hanya satu tokoh...
tetapi berbagai macam tokoh! Jika sebelumnya Rama hanya perlu mewaspadai
Tama dan Mad Dog (yang legendaris itu), maka di kasus ini, Rama kudu
berhadapan dengan Uco, Bangun, Eka (Oka Antara), dan Bejo (Alex Abbad).
Oh, bahkan saya belum menyebutkan The Assassin (Cecep Arif Rahman) yang
tak kalah beringas dari Mad Dog, kakak beradik maha sadis Hammer Girl
(Julie Estelle) dan Baseball Bat Man (Very Tri Yulisman), serta pihak
keluarga Goto!
The Raid 2: Berandal
memang menghabiskan sebagian besar waktunya di paruh pertama untuk
berceloteh seputar dunia kelam yang akan disinggahi Rama untuk
sementara. Apakah ini berarti menjemukan? Tidak juga. Beragam intrik
yang dikulik – walau tak saya pungkiri, ada kalanya terasa kelewat
panjang – mampu membetot perhatian dan memberi rasa penasaran terhadap
penonton untuk mengikuti lebih jauh. Film pun tak hanya berada di ranah action, namun juga merangkul crime-thriller.
Penggalian kisah ini memang memberikan dampak kepada gelaran aksi yang
tidak lagi tanpa putus seperti sang pendahulu, namun Anda tak perlu
risau jilid kedua ini akan menjadi kekurangan amunisi. Bahkan di
tengah-tengah percakapan yang seolah berlangsung ‘aman-aman saja’,
pertumpahan darah bisa saja terjadi. Anda tidak pernah bisa menebak
kapan dan dimana pertarungan akan berlangsung.
Setidaknya ada tiga pertarungan akbar dalam The Raid 2: Berandal yang begitu membekas hingga saya melangkahkan kaki ke luar gedung bioskop; ‘mud’, ‘threesome’, dan ‘kitchen’.
Ya, saya sengaja menyebutnya dalam bentuk kode lantaran tak ingin
merusak kesenangan Anda sebelum mencicipi film ini. Yang jelas,
ketiganya dirangkai menggunakan koreografi rumit yang membutuhkan
presisi, tangkapan kamera yang dinamis, editing yang cekatan, dan alunan
musik skoring yang menghentak, sehingga saat menyaksikannya... sungguh
sulit untuk bernafas! Berlangsung sedemikian intens-nya, Anda mungkin
akan bersorak sorai dan bertepuk tangan saat segalanya berakhir. Evans
menggambarkannya menjadi lebih liar, lebih menggila, lebih brutal, lebih
indah (ditilik dari sisi style), dan lebih megah dari sebelumnya. Jika Anda menganggap penghancuran shelter busway – terlihat di trailer – sudah terasa wow, percayalah... itu tidak ada apa-apanya dengan semua kekacauan yang terjadi di sini!
The Raid 2: Berandal
menunjukkan bagaimana sebuah sekuel seharusnya dibuat. Seluruh elemen
terbaik yang dimiliki oleh seri pembukanya dihadirkan kembali untuk
kemudian ditambah elemen baru yang belum pernah disaksikan sebelumnya.
Beragam bentuk bela diri dalam bentuk hantaman, pukulan, tendangan,
sampai bacokan yang berlangsung dimanapun (klub malam, rumah makan,
koridor sempit, klub malam, dan pabrik pembuatan film porno) kapanpun
tentu ada di sini, tapi tahukah Anda bahwa film produksi Merantau Films
ini juga mempunyai salah satu car chase scene terkeren yang pernah ada? Dan, oh... The Raid 2: Berandal
pun menghadirkan performa cantik dari para pelakonnya yang
dipersembahkan oleh Arifin Putra, Alex Abbad dan Julie Estelle. Bahkan,
yang lebih mengesankan adalah, dengan durasi yang merentang panjang
hingga mencapai 148 menit, The Raid 2: Berandal sama sekali tidak terasa membosankan atau melelahkan. Malah, saya ingin menontonnya lagi dan lagi. Sangat memuaskan.