Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan


“Yang bukan siapa-siapa, mana bisa mendapat apa-apa.” 

Raditya Dika telah curhat colongan seputar kisah asmaranya yang apes secara berturut-turut lewat Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, Cinta Dalam Kardus, hingga Manusia Setengah Salmon. Melalui garapan terbarunya yang sekaligus menandai debutnya sebagai sutradara film panjang, Marmut Merah Jambu, (lagi-lagi) Dika berkisah mengenai kehidupan percintaannya yang dirundung sial. Hanya saja, selayaknya Manusia Setengah Salmon, Marmut Merah Jambu tidak memberatkan seluruh isian penceritaan dengan asmara penuh duka lara tetapi juga mengupas tentang pertemanan, keluarga, dan sedikit memberikan sentuhan misteri ke dalamnya. Inilah yang menjadikan film terasa lebih mengikat. Menariknya lagi, Dika turut menyemprotkan aroma nostalgia SMA dalam Marmut Merah Jambu yang akan membuat penonton manapun (yang telah melewati masa-masa ini) membongkar setumpuk kenangan yang tersimpan indah (maupun pahit) di ingatan.  

Saat gadis yang dulu ditaksirnya saat SMA, Ina, hendak melangsungkan pernikahan, Dika (Raditya Dika) pun mengunjungi rumahnya dengan maksud memberi ucapan selamat sekaligus perpisahan. Tak bertemu secara langsung dengan Ina, Dika justru disambut oleh Bapak Ina (Tio Pakusadewo) yang membuat Dika mengilas balik masa lalunya untuk menceritakan awal mula perjumpaannya dengan Ina. Guliran kisah pun lantas melempar penonton kembali ke masa SMA dari Dika (Christoffer Nelwan) yang, yah... mengenaskan. Bersama dengan sang sahabat, Bertus (Julian Liberty), keduanya tergabung ke dalam kelompok siswa terbuang. Keberadaan mereka di sekolah nyaris tak terdeteksi. Termotivasi untuk menjadi populer dan mendapat pengakuan, Dika dan Bertus pun menciptakan grup detektif yang belakangan diramaikan pula oleh Cindy (Sonya Pandarmawan). Seolah tanpa kesulitan berarti, ketiganya mampu memecahkan beragam kasus di sekolah yang berdampak pada terangkatnya status sosial mereka. Dengan misi menjadi populer tercapai, kebahagiaan seharusnya menaungi mereka hingga Bertus dan Cindy menyadari misi utama Dika menciptakan grup detektif ini. 

Salah satu yang menjadi letak kekuatan dari karya-karya Raditya Dika adalah kesederhanaan dan kejeliannya dalam mengulik problematika yang lekat dengan pengalaman kebanyakan orang dengan ruang lingkup permasalahan yang hanya berkisar pada asmara, keluarga, dan persahabatan. Dibumbui humor yang menjadikannya memiliki cita rasa gurih, Dika tidak memilih orang lain sebagai korban candaan, melainkan tanpa rasa sungkan mengajukan diri sendiri untuk ditertawakan. Inilah yang membuat film komedi milik Raditya Dika terasa berbeda dari kebanyakan rilisan lokal, penonton diminta memiliki kebesaran hati agar bersedia menertawakan diri sendiri (dan Dika tentunya!). Sulit? Tidak juga. Walau ini berdampak kepada guyonannya yang sulit dicerna oleh sebagian penonton. Dalam Marmut Merah Jambu, Dika mengajak kita mengenang masa SMA, bertanya kepada diri sendiri perihal seberapa tinggi kepopuleran kita kala itu, lalu menertawakannya. Menyelami kehidupan remaja SMA menggunakan kacamata siswa terpinggirkan menjadikan film terasa mengasyikkan sekaligus membumi. 

Faktor lain yang memiliki pengaruh terhadap segarnya Marmut Merah Jambu disamping tatanan skripnya yang lezat adalah pemilihan cast yang tepat. Untuk sekali ini, Dika tak menanggung beban sendirian dalam menggerakkan poros cerita. Dia mendapat bantuan dari Christoffer Nelwan, Julian Liberty, Sonya Pandarmawan (mantan personil JKT48), serta Tio Pakusadewo yang masing-masing menyuguhkan performa yang menawan. Trio remaja Christoffer-Julian-Sonya mampu menunjukkan chemistry yang terasa begitu padu, meyakinkan, dan kocak. Bahkan saat ketiganya sedang tidak bersama, mereka berhasil tampil secara santai, seolah tanpa beban, dan lepas. Kejenakaan yang dimiliki oleh karakter yang mereka emban pun tersalurkan dengan cara yang begitu natural, tanpa pernah terlihat bersusah payah agar terkesan lucu, terutama untuk Christoffer Nelwan dan Julian Liberty (yang begitu mencuri perhatian di setiap kemunculannya). 
Dengan sokongan jajaran pemain yang solid, ditambah pula Raditya Dika begitu leluasa dalam menghantarkan gagasan-gagasannya dengan peranannya yang begitu besar di balik kemudi, maka tidak mengherankan Marmut Merah Jambu terasa lebih superior dan memiliki greget ketimbang film-film Dika yang terdahulu. Ada kejenakaan dan kehangatan yang ditimbulkan saat film menyoroti persahabatan Dika bersama sahabat-sahabatnya di SMA, ada rasa manis saat sisi romansa dari film timbul menyeruak, dan ada gemas-gemas penasaran saat sebuah kasus dilempar kepada grup detektif untuk dipecahkan, yang lantas dipersatukan oleh Dika dengan lancar menggunakan ramuan yang tepat. Alhasil, Marmut Merah Jambu pun terhidang sebagai sebuah tontonan yang unyu-unyu menggemaskan. Penggemar berat Dika akan terpuaskan, sementara mereka yang berasal dari barisan bukan penggemar akan tetap mampu menikmatinya. Asyik! 






“Saya bukannya nggak percaya sama kamu, tapi saya memang nggak percaya sama siapa-siapa.” - Bangun 


Baiklah. Izinkan saya untuk menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum mulai mengatakan sesuatu... dan saya pun mengizinkan Anda untuk bersiap-siap diliputi rasa penasaran atau (mungkin) beragam nyinyiran karena ulasan yang hendak Anda baca ini mungkin sedikit bernada hiperbolis. Ya, begitu sulit untuk tidak meluapkan kegembiraan setelah menyaksikan The Raid 2: Berandal. Segenap ekspektasi yang telah saya tanamkan untuk film ini, dilampaui dengan begitu mudahnya. Jika apa yang membuat Anda jatuh hati di jilid pertama adalah kegilaan aksinya, maka Gareth Evans meningkatkannya hingga berlipat-lipat di sini dengan kekerasan yang tak tertahankan. Jika jalinan pengisahan yang sedemikian tipis di film sebelumnya membuat Anda mendengus kecewa, maka Gareth Evans melunasinya di sini melalui tuturan yang lebih kompleks dan membutuhkan sedikit perhatian untuk bisa mencernanya dengan baik. Gareth Evans tidak lagi bermain-main demi terwujudnya sebuah sekuel yang epik... dan itu memang terwujud dalam The Raid 2: Berandal

Berselang dua jam setelah berhasil melepaskan diri dari gedung bertingkat yang mematikan – setting utama dan satu-satunya di The Raid – Rama (Iko Uwais) masih belum diizinkan untuk mengistirahatkan jiwa raganya serta menikmati segarnya hembusan angin kebebasan. Bunawar (Cok Simbara), pemimpin satuan anti korupsi di Indonesia, merekrutnya untuk melakoni sebuah misi penting yakni menyibak identitas para polisi kotor. Untuk menuntaskan misi ini secara sempurna, Rama pun kudu rela dipenjara selama menahun demi mendekati dan menjalin persahabatan dengan Uco (Arifin Putra), anak laki-laki bos mafia terpandang, Bangun (Tio Pakusadewo). Melalui jaringan yang dibentuknya ini, Rama yang menyamarkan namanya menjadi Yudha pun terseret ke dalam dunia mafia yang dipenuhi intrik berselimut darah, keserakahan, dan pengkhianatan. Satu-satunya jalan (dan pilihan) yang dimiliki oleh Rama agar bisa meloloskan diri adalah menyelesaikan apa yang telah dimulainya. Tidak ada yang lain. 

Mengikuti tradisi sekuel yang umumnya memiliki cakupan skala yang lebih besar, maka seperti itulah Gareth Evans menyajikan The Raid 2: Berandal. Tatkala The Raid cenderung mengalir secara linear dan vertikal dengan jalinan penceritaan yang seolah hanya ditulis “masuk, bertarung, keluar”, tidak halnya dengan The Raid 2: Berandal. Tatanan naskah mendapat perhatian lebih, untuk sekali ini, menjawab keluhan sejumlah penonton yang merasa plot film pertama kelewat ‘kering’. Ada sesuatu lain yang kudu disimak oleh penonton tatkala melihat darah yang menyembur kemana-mana dan mendengar tulang-tulang retak. Konflik yang dikedepankan terbilang cukup kompleks dengan melibatkan tidak hanya satu tokoh... tetapi berbagai macam tokoh! Jika sebelumnya Rama hanya perlu mewaspadai Tama dan Mad Dog (yang legendaris itu), maka di kasus ini, Rama kudu berhadapan dengan Uco, Bangun, Eka (Oka Antara), dan Bejo (Alex Abbad). Oh, bahkan saya belum menyebutkan The Assassin (Cecep Arif Rahman) yang tak kalah beringas dari Mad Dog, kakak beradik maha sadis Hammer Girl (Julie Estelle) dan Baseball Bat Man (Very Tri Yulisman), serta pihak keluarga Goto! 

The Raid 2: Berandal memang menghabiskan sebagian besar waktunya di paruh pertama untuk berceloteh seputar dunia kelam yang akan disinggahi Rama untuk sementara. Apakah ini berarti menjemukan? Tidak juga. Beragam intrik yang dikulik – walau tak saya pungkiri, ada kalanya terasa kelewat panjang – mampu membetot perhatian dan memberi rasa penasaran terhadap penonton untuk mengikuti lebih jauh. Film pun tak hanya berada di ranah action, namun juga merangkul crime-thriller. Penggalian kisah ini memang memberikan dampak kepada gelaran aksi yang tidak lagi tanpa putus seperti sang pendahulu, namun Anda tak perlu risau jilid kedua ini akan menjadi kekurangan amunisi. Bahkan di tengah-tengah percakapan yang seolah berlangsung ‘aman-aman saja’, pertumpahan darah bisa saja terjadi. Anda tidak pernah bisa menebak kapan dan dimana pertarungan akan berlangsung. 
Setidaknya ada tiga pertarungan akbar dalam The Raid 2: Berandal yang begitu membekas hingga saya melangkahkan kaki ke luar gedung bioskop; ‘mud’, ‘threesome’, dan ‘kitchen’. Ya, saya sengaja menyebutnya dalam bentuk kode lantaran tak ingin merusak kesenangan Anda sebelum mencicipi film ini. Yang jelas, ketiganya dirangkai menggunakan koreografi rumit yang membutuhkan presisi, tangkapan kamera yang dinamis, editing yang cekatan, dan alunan musik skoring yang menghentak, sehingga saat menyaksikannya... sungguh sulit untuk bernafas! Berlangsung sedemikian intens-nya, Anda mungkin akan bersorak sorai dan bertepuk tangan saat segalanya berakhir. Evans menggambarkannya menjadi lebih liar, lebih menggila, lebih brutal, lebih indah (ditilik dari sisi style), dan lebih megah dari sebelumnya. Jika Anda menganggap penghancuran shelter busway – terlihat di trailer – sudah terasa wow, percayalah... itu tidak ada apa-apanya dengan semua kekacauan yang terjadi di sini! 

The Raid 2: Berandal menunjukkan bagaimana sebuah sekuel seharusnya dibuat. Seluruh elemen terbaik yang dimiliki oleh seri pembukanya dihadirkan kembali untuk kemudian ditambah elemen baru yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Beragam bentuk bela diri dalam bentuk hantaman, pukulan, tendangan, sampai bacokan yang berlangsung dimanapun (klub malam, rumah makan, koridor sempit, klub malam, dan pabrik pembuatan film porno) kapanpun tentu ada di sini, tapi tahukah Anda bahwa film produksi Merantau Films ini juga mempunyai salah satu car chase scene terkeren yang pernah ada? Dan, oh... The Raid 2: Berandal pun menghadirkan performa cantik dari para pelakonnya yang dipersembahkan oleh Arifin Putra, Alex Abbad dan Julie Estelle. Bahkan, yang lebih mengesankan adalah, dengan durasi yang merentang panjang hingga mencapai 148 menit, The Raid 2: Berandal sama sekali tidak terasa membosankan atau melelahkan. Malah, saya ingin menontonnya lagi dan lagi. Sangat memuaskan.

Outstanding




Apabila diperkenankan untuk mengucap kejujuran, sebetulnya hati ini tiada memiliki ketertarikan untuk menyaksikan Tak Kemal Maka Tak Sayang. Well, selain bukan penggemar gaya Kemal Palevi dalam berkelakar di atas panggung, traumatis terhadap film teranyar Raditya Dika – sebagai sesama pelaku stand up comedy – yang begitu mengecewakan ditinjau dari berbagai sisi masih belum sepenuhnya mengenyahkan diri dari pikiran. Lagipula, apa yang menjadi bahan kupasan film yang beranjak dari buku laris berjudul sama rekaan Kemal Palevi ini yah, masih berkisar di kehidupan si comic yang dipenuhi oleh keabsurdan lengkap dengan tragedi percintaannya. Tidak benar-benar ditemui pembaharuan lantaran kurang lebih hanya mempergunakan formula yang diciptakan oleh Dika di film-film miliknya. Dengan hanya berpatokan pada ini, gairah menonton pun gagal terbentuk. Lalu, saya pun memutuskan untuk memberi kesempatan pada Tak Kemal Maka Tak Sayang yang tiada disangka-sangka... ternyata menghibur! Don’t judge a book by its cover, eh? 

Tak Kemal Maka Tak Sayang membawa penonton ke babak kehidupan Kemal Palevi jauh sebelum dirinya tenar di panggung stand up comedy. Sebagai pelajar SMA, Kemal bukanlah sosok yang populer, cenderung memiliki peringai ‘ajaib’, dan senantiasa dihadapkan pada kegagalan soal asmara. Upaya merebut hati Raisya (Indah Permatasari), gadis cantik yang telah lama menjadi incarannya, pun bukan perkara mudah terlebih Raisya telah memiliki kekasih yang merupakan jagoan di sekolah, Nanda (Ajun Perwira). Kemal meminta bantuan ayahnya yang jago capoeira serta sahabat dekatnya yang aneh, Khalil (Rayi Putra), untuk mempersiapkan pertempuran melawan Nanda memenangkan hati Raisya. Setelah ditempa oleh berbagai latihan melelahkan, sayangnya takdir berkehendak lain dan justru membawa Kemal ke Jakarta yang mempertemukannya dengan Putri (Laudya Cynthia Bella). Sosok Putri yang bertolak belakang dari Raisya ini lantas mengisi babak baru dari kehidupan Kemal dan menjadi salah satu orang terpenting dalam hidupnya yang menghantarkannya pada sorot lampu ketenaran. 
Diperkirakan akan menjelma sebagai sebuah tontonan garing kriuk-kriuk, Tak Kemal Maka Tak Sayang justru membuat saya kecele dengan sajiannya yang memiliki kandungan hiburan mencukupi. Memang secara garis cerita film tidak dikaruniai keistimewaan, plotnya klise dan begitu mudah ditebak kemana akan bermuara, tetapi apa yang membuat Tak Kemal Maka Tak Sayang terasa unggul ketimbang film sejenis adalah ketepatan dalam pengaturan ‘comic timing’. Fajar Bustomi (Slank Nggak Ada Matinya, Remember When) memahami betul waktu yang dirasanya sesuai untuk melontarkan lawakan-lawakan kreasi Kemal dan Jovial da Lopez sehingga ketika ‘bom’ dijatuhkan ada dampak kuat yang dirasakan sehingga secara otomatis ledakan tawa pun terpantik. Bagusnya, tidak sedikit pula guyonan – walau masih berkutat di area slapstick – yang kemunculannya dari suatu adegan yang bisa jadi tidak kamu duga sebelumnya... dan ini berhasil. Alhasil, penonton pun sukses digiring memasuki momen-momen penuh kegilaan yang menyenangkan di sini. 

Tentu, tidak semua candaan disasarkan secara tepat. Ada pula yang meleset. Bahkan film pun kehilangan magisnya ketika klimaks dibungkus sekenanya, cenderung terburu-buru, menggantikan adegan puncak yang memungkinkan Kemal Palevi untuk bersinar terang lewat gaya lawakannya dengan sederetan footage. Sungguh sangat disayangkan film gagal dibawa ke tingkatan yang lebih tinggi. Beruntung luka di ujung ini sedikit banyak tertutupi oleh polesan efek khusus yang tergarap baik, isian tembang-tembang pengiring yang easy listening, jajaran pemain bermain prima, khususnya Laudya Cynthia Bella, Rayi Putra, Hifdzi Khoir dan Ajun Perwira yang masing-masing mencuri perhatian lewat peran yang diembannya, serta sisipan adegan di sela-sela credit title yang melibatkan Luna Maya. Bahkan sekalipun Tak Kemal Maka Tak Sayang kurang mampu memberi hentakan lebih pada penyelesaiannya, film ini masih terbilang berhasil dalam kaitannya menunaikan tugas sebagai film senang-senang pelepas penat. Kocak dan mengasyikkan
Kali ini gue pengen bikin sinopsis filmnya Mario maurer yang lain. Buat yang belum nonton, Pee Mak Phra Khanong ini genrenya horor komedi. Lucu. Lumayan buat hiburan di tengah kepadatan menggarap skripsweet. Filmnya udah keluar dari tahun 2013 sebenernya, tapi, gak masalah lah yaa kalo gue pengen bahas ini. :)

Di suatu daerah bernama Phra Khanong, di negeri Thailand, konon kisah ini adalah legenda yang benar-benar terjadi di sana. Kisah mengenai cinta abadi seorang wanita kepada suaminya ini, diceritakan secara turun temurun dari mulut ke mulut.
Begini ceritanya...... (biar kayak serial misteri..)

Kisah ini bersetting abad ke 19, dimana saat itu terjadi perang antara negeri Siam dengan negeri asing yang bersenjata modern. Mak (Mario Maurer) menjadi salah satu prajurit yang membela negerinya. Ketika terluka, Mak berjumpa dengan empat orang lainnya yang kemudian menjadi sahabatnya.

Pada saat yang sama, istri Mak yang bernama Nak (Davika Hoorne) sedang berjuang sendirian menahan sakitnya di Phra Khanong untuk melahirkan bayinya. Setelah beberapa waktu, di Phra Khanong sering terdengar suara Nak yang menyanyikan lagu nina bobo untuk anaknya, yang menakuti seluruh warga di kawasan Phra Khanong. Rumor kemudian beredar di Phra Khanong bahwa Nak telah mati dan menjadi hantu.

Bersama keempat temannya yang aneh (Aey, Ter, Puak, Shin), Mak berhasil selamat dari perang. Mak kemudian mengundang mereka untuk datang ke rumahnya dan mengajak mereka untuk menginap selama beberapa hari di rumah bibi Mak yang kosong karena sudah tiada penghuninya, yang letaknya di seberang rumah Mak. Mak sangat bahagia dapat berjumpa kembali dengan istri dan anaknya. Mak kemudian memperkenalkan teman-temannya dengan istrinya yang cantik jelita dan bayi mereka yang diberi nama Dang.

Keesokan harinya, Mak, dan teman-temannya pergi ke pasar untuk berbelanja. Anehnya, di pasar semua orang terlihat takut pada Mak, dan tidak ada satu pun yang bersedia menjual barang kepada Mak. Pada sebuah toko bir kecil, wanita penjual yang setengah mabuk kemudian mencoba untuk memberitahu Mak mengenai rumor tersebut, namun, niat tersebut dihentikan oleh anaknya.

Suatu malam, Shin, datang ke rumah Mak untuk mengajak Mak minum bersama mereka. Shin ketakutan ketika melihat tangan Nak yang memanjang dari rumah panggungnya untuk mengambil buah yang berada di tanah. Selain itu, Shin melihat keanehan pada rumah Mak yang sangat kotor seperti telah ditinggalkan penghuninya dalam waktu yang lama. Ketika ia menceritakan hal ini, teman-temannya tak ada yang menanggapinya serius. Pada saat itu, tidak satupun dari mereka yang menyadari adanya mayat dari si wanita penjual bir yang mengambang di dekat mereka.

Esoknya, Ter menemukan sesosok mayat di halaman belakang rumah Mak yang mengenakan cincin yang persis sama seperti cincin yang dipakai Nak. Kedua temannya mulai mempercayai apa yang diucapkan oleh Shin dan Ter, namun tidak ada yang benar-benar berani untuk membungkuk dan melihat Nak di antara kedua kaki, yang merupakan suatu cara untuk mengkonfirmasi apakah ia hantu atau bukan. (saran dari wanita penjual bir di pasar dan Shin)

Ketika mencoba memberitahu Mak tentang istrinya yang telah menjadi hantu, teman-teman Mak malah terjebak di meja makan bersama Mak dan Nak. Mereka disuguhi makanan berupa daun-daun kering, cacing dan belatung, yang disebut Mak sebagai "makanan enak". Hanya Mak yang tampaknya menikmati makanannya. Dia antusias sekali memaksa teman-temannya untuk makan. Buahahahhahaaa... Konyol abis.

Sehabis dinner ala hantu Nak, mereka main game tebak gaya. Di sini mereka kelepasan mengatakan bahwa Nak adalah hantu. Mak yang marah dan tidak terima istrinya disebut hantu, langsung mengusir mereka dari rumah bibinya.

Atas nama persahabatan, mereka tidak dapat pergi dan membiarkan Mak begitu saja bersama hantu Nak. Oleh karenanya, mereka kemudian berkomplot untuk menyadarkan Mak bahwa Nak telah menjadi hantu.

Mak dan Nak datang ke karnaval desa. Nak mengenakan topeng untuk menghindari penduduk desa. Di sini teman-teman Mak mulai menjalankan misi mereka. Pada suatu arena Rumah Hantu, mereka menculik Mak untuk menjauh dari Nak. Di sini konyol banget dimana mereka pura-pura jadi hantu penghuni Rumah Hantu supaya bisa kabur dari Nak yang kehilangan Mak.

Ketika berhasil membawa kabur Mak, luka perang Mak di bagian dada terbuka kembali. Pada saat itu, mereka melihat cincin yang Mak pakai sebagai liontin kalung, yang sangat mirip dengan cincin mayat yang ditemukan Ter di halaman belakang rumah Mak. Karena curiga, mereka melemparkan beras suci ke arah Mak, Mak menjerit keras, (ya iyalah orang lagi luka dadanya, dilempar pake beras) sehingga mereka menjadi yakin, bahwa Mak adalah hantu yang sebenarnya, dan bukan Nak.

Mereka kemudian lari untuk menyelamatkan Nak dengan menggunakan perahu. Nak dan Dang diletakkan di bagian belakang perahu, Namun ternyata perahunya tidak cukup kuat menampung 6 orang sehingga perahunya nyaris tenggelam. Dengan pintarnya, Ter melemparkan kedua dayungnya ke air, Mereka memang tidak jadi tenggelam namun perahunya tidak bisa jalan.. Hahahaha.. paraaahh.

Pada saat itu muncullah Mak di tepi sungai yang datang mendekat, mereka panik. Namun, tak dinyana Mak malah tenggelam. Mak kemudian diselamatkan oleh mereka.. Mak menjelaskan bahwa hantu tidak mungkin tenggelam dan dia menjerit karena mereka telah melemparkan lukanya dengan beras suci.

Dengan tujuh orang di dalam perahu, perahu tersebut mulai tenggelam lagi. Di tengah kepanikan mereka, Ter mulai bertanya-tanya siapa hantu yang sebenarnya. Pada saat tersebut, cincin yang sama persis seperti cincin yang dipakai mayat belakang rumah, jatuh dari Aey. Langsung lah Aey yang dituduh hantu dan ditendang keluar perahu.

Namun, mereka yang ketakutan dan mendayung dengan tangan menjadi frustasi. Tahu-tahu, dari belakang Nak menjulurkan dayung, yang sebelumnya sudah hanyut jauh. Dayung tersebut kemudian diberikan kepada Ter yang duduk di muka. Ter langsung terhenyak. Kemudian, dia berdiri dan membungkuk, untuk melihat di antara kedua kakinya. Dan ternyata memang hantunya adalah Nak.

Mak, yang telah dibuat pingsan, bersama ketiga temannya yang tersisa, Shin, Puak, dan Ter, mendatangi sebuah kuil untuk menemui biksu di sana dan meminta tolong untuk mengusir Nak. Mak yang sadar langsung memanggil-manggil Nak namun ditahan oleh rekan-rekannya. Sayangnya, di sini usaha mereka gagal total karena kecerobohan mereka. Bahkan si Biksu pun kabur dari jendela. sumpah ini bikin ketawa-ketawa sendiri. ^^
 Aey kemudian datang dan menjelaskan kepada mereka bahwa ia masih manusia. Ia memiliki cincin Nak karena mencuri dari jenazahnya untuk membayar hutangnya. Setelah percaya, mereka berlima kemudian menghadapi kemarahan Nak. Mereka mendebat keras dan mengusir Nak untuk meninggalkan Mak karena mereka telah berbeda dunia.

Namun, ternyata, terungkap di sini bahwa Mak sebenarnya sudah tahu sejak lama bahwa Nak adalah hantu. Namun, karena cintanya, Mak membiarkan dan pura-pura tidak tahu. Dia lebih takut harus hidup tanpa Nak, daripada hidup bersama hantu Nak. Teman-temannya yang melihat hal tersebut terharu dan berpelukan, mereka berjanji untuk tidak meninggalkan satu sama lain dan tidak akan takut walau salah satu dari mereka telah menjadi hantu, ahaha.. So sweet yang aneh :D

Dalam epilog, digambarkan bahwa Nak, Mak, dan keempat temannya hidup bahagia di desa tersebut. Warga desa masih takut pada Nak. Kemampuan hantu Nak digunakannya untuk mengerjakan tugas sehari-hari, dan yang lainnya, betewe, ternyata Dang juga bisa memanjangkan tangan seperti ibunya, hihii..
Demikianlah, happy ending...

Di sini, Mario Maurer jadi suami yang manja, rada genit, dan oon banget. hahaha. Kadang-kadang bikin ilfeel. Trus jangan kaget lihat pemainnya, giginya hitam semua. Baik cewek maupun cowok. Emang di setting seperti itu, mungkin di abad ke 19, semua orang menghitamkan gigi mereka di Siam. Ya kali ya? Entahlah~ Yang pasti ini film hantu gak serem kok menurut gue. Saking kerennya film ini, konon, berhasil meraup keuntungan more than 1 billion baht atau setara dengan 33 juta dolar. Woow.. Film ini juga menang award banyak banget dan juga masuk ke berbagai nominasi. Di Asia, film ini udah diputer di lebih dari 10 negara.


My true friend, sebuah film inspiratif yang menayangkan arti persahabatan yang dimainkan oleh Natcha Jantapan –Song- sebagai tokoh utama 1 dan Mario Maurer –Gun- sebagai tokoh utama 2. Film ini menceritakan tentang kisah persahabatan Song dengan Gun. Song berasal dari Chiang Mai, dia memutuskan untuk pindah dari Chiang Mai dan tinggal di Bangkok bersama kakak perempuannya –Neung- dan masuk di salah satu kampus yang ada di Bangkok. Alasan utama Song memilih pindah dari Chiang Mai karena ia ingin bebas, ibu nya selalu mengaturnya dan melarang Song keluar rumah tanpa seizin ibunya, keadaan semakin diperburuk sejak ibunya memutuskan untuk menikah lagi.
Di kampus baru nya ia mengambil jurusan seni tahun pertama. Disana ia bertemu dengan Nem yang ternyata sama-sama mengambil jurusan seni tahun pertama. Lalu ia bertemu dengan Dew wanita yang ia sukai dan juga Gun.
Gun, pemilik nama lengkap Gundrit merupakan pendiri Geng Sperm. Ia dikenal sebagai mahasiswa paling populer di kampusnya. Namun Nem meminta Song untuk menjauhi Gun karena Geng Sperm dianggap sebagai gengster yang senengnya hanya berkelahi dan membuat masalah, selain itu ternyata juga ada masalah pribadi antara Nem dan Gun setelah kematian kakak laki-laki Nem, Oak, yang merupakan sahabat dari Gun.
Geng sperm terdiri atas 6 orang yaitu Tod, Nick, Kla, Charm, Arm dan Gun. Keseharian Song di kampus tidak begitu menyenangkan. Song selalu diganggu dengan mahasiswa lain karena berani mendekati Dew. Beberapa hari berlalu, suatu ketika saat siang hari sepulang kuliah, Song diajak gabung bermain sepak bola bersama anak-anak geng Sperm. Disitu lah awal pertemanan antara Song dan Gun bermula. Sejak saat itu Song sering sekali bergabung dan dan menghabiskan waktu luangnya bersama Gun dan teman-temannya yang lain. Pertemanan itu pun berujung menjadi sebuah persahabatan yang sangat manis.
Tidak semua kisah persahabatan berjalan mulus, pasti selalu ada konflik yang menjadi bumbu-bumbu penyedap dalam kisah persahabatan yang sejati. Begitu juga dengan kisah persahabatan antara Song Dengan Geng Sperm terutama dengan Gun. Konflik dimulai ketika mereka memutuskan untuk memukuli pacar kakak Song yang ketahuan selingkuh, tapi malah masuk penjara karena keteledoran Nick. Ini juga menjadi awal penyebab anggota geng Sperm pecah. Konflik kedua terjadi ketika Tod dan Song menerima tawaran untuk memukuli lelaki yang saat itu bersama seorang wanita yang ternyata wanita tersebut adalah putri Wichian Wongtanapanich anggota dewan Chiang Mai, konflik ini berlanjut hingga misi menyelamatkan Tod yang ditangkap oleh Kheng ketua Geng Night Bazzar karena kasus pemukulan yang Tod dan Song lakukan di Club kemarin. Tod berhasil diselamatkan dengan bantuan dari Beer, dan akhirnya mereka semua bergabung lagi.
Malam itu, semua anggota geng Sperm, Beer dan Nem berkumpul disebuah Club untuk hitung mundur akhir tahun bersama. Setelah acara berakhir Gun langsung berpamitan pada Song, Tod dan Nick di parkiran karena ia berjanji untuk menemui Elle –anak SMA yang tergila-gila pada Gun- untuk hitung mundur bersama. Tak lama kemudian, beberapa anggota night bazzar dan Kheng datang menyerang Tod, Nick, dan Song. Melihat perkelahian itu Gun turun dari mobil nya dan menghajar Kheng dan teman-teman nya. Gun melihat Kheng mengeluarkan pisau dari saku nya yang berniat untuk mencelakakan Nick. Gun berlari dan memegang erat tangan Kheng berusaha untuk menghindarkan Nick dari ancaman Kheng. Mata pisau mengarah pada perut Gun, sekuat mungkin ia menahan agar pisau itu tidak tertusuk ke perut nya, namun Gun dikeroyok oleh satu teman Kheng. Posisi Gun dalam bahaya, gun mencoba membalas serangan dari teman Kheng, saat lengah itu lah Kheng meluncurkan pisau ke perut Gun. tusukan itu berkali-kali dilakukannya. Gun tak berdaya, Gun lemas. Tapi tetap berusaha menahan rasa perih itu dan menutupi keadaannya dari teman-temannya. Dengan kondisi yang seperti itu ia tetap menghampiri Elle utuk memenuhi janjinya.
Melihat Gun yang akhirnya datang, Elle begitu senang, tapi seketika berubah menjadi kekhawatiran melihat Gun terbaring tak berdaya di depan mobil dengan wajah pucat. Elle serentak berlari dan segera membawa Gun ke rumah Sakit. Namun, nyawa Gun tak bisa tertolong, ia tewas akibat pendarahan dari luka tusuk yang dialaminya.
Seluruh anggota Sperm terpukul dengan kenyataan ini, termasuk kedua orang tua yang begitu menyesal mengingat semua bahkan nyawa tak bisa dibayar dengan harta. Song, yang tak menerima dengan kenyataan itu berencana untuk membalas dendam, namun ia teringat akan pesan Gun selama ini, bahwa mereka adalalah sekawanan petarung, bukan gangster. Berkelahi sampai ada yang menang, bukan membunuh, ini yang membuat song tak membalas hal yang sama kepada pelaku yang membunuh Gun.

Sejak kepergian Gun, hubungan geng sperm yang ditambah dengan Beer dan Nem menjadi lebih erat. Mereka semua merasa kehilangan. Semua menjalani hidup mereka masing-masing. Dan Song, selalu merindukan sosok Gun, sosok yang sudah mengubah kehidupannya, seorang sahabat yang sangat berarti dalam hidupnya. Banyak hal baru yang mengubah kehidupan Song. Mulai dari belajar arti persahabatan dan betapa berharganya persahabatan itu, hingga belajar berkelahi seperti anak laki-laki.