“Saya bukannya nggak percaya sama kamu, tapi saya memang nggak percaya sama siapa-siapa.” - Bangun
Baiklah.
Izinkan saya untuk menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum
mulai mengatakan sesuatu... dan saya pun mengizinkan Anda untuk
bersiap-siap diliputi rasa penasaran atau (mungkin) beragam nyinyiran
karena ulasan yang hendak Anda baca ini mungkin sedikit bernada
hiperbolis. Ya, begitu sulit untuk tidak meluapkan kegembiraan setelah
menyaksikan The Raid 2: Berandal. Segenap ekspektasi yang telah
saya tanamkan untuk film ini, dilampaui dengan begitu mudahnya. Jika apa
yang membuat Anda jatuh hati di jilid pertama adalah kegilaan aksinya,
maka Gareth Evans meningkatkannya hingga berlipat-lipat di sini dengan
kekerasan yang tak tertahankan. Jika jalinan pengisahan yang sedemikian
tipis di film sebelumnya membuat Anda mendengus kecewa, maka Gareth
Evans melunasinya di sini melalui tuturan yang lebih kompleks dan
membutuhkan sedikit perhatian untuk bisa mencernanya dengan baik. Gareth
Evans tidak lagi bermain-main demi terwujudnya sebuah sekuel yang
epik... dan itu memang terwujud dalam The Raid 2: Berandal!
Berselang dua jam setelah berhasil melepaskan diri dari gedung bertingkat yang mematikan – setting utama dan satu-satunya di The Raid
– Rama (Iko Uwais) masih belum diizinkan untuk mengistirahatkan jiwa
raganya serta menikmati segarnya hembusan angin kebebasan. Bunawar (Cok
Simbara), pemimpin satuan anti korupsi di Indonesia, merekrutnya untuk
melakoni sebuah misi penting yakni menyibak identitas para polisi kotor.
Untuk menuntaskan misi ini secara sempurna, Rama pun kudu rela
dipenjara selama menahun demi mendekati dan menjalin persahabatan dengan
Uco (Arifin Putra), anak laki-laki bos mafia terpandang, Bangun (Tio
Pakusadewo). Melalui jaringan yang dibentuknya ini, Rama yang
menyamarkan namanya menjadi Yudha pun terseret ke dalam dunia mafia yang
dipenuhi intrik berselimut darah, keserakahan, dan pengkhianatan.
Satu-satunya jalan (dan pilihan) yang dimiliki oleh Rama agar bisa
meloloskan diri adalah menyelesaikan apa yang telah dimulainya. Tidak
ada yang lain.
Mengikuti tradisi sekuel yang umumnya memiliki cakupan skala yang lebih besar, maka seperti itulah Gareth Evans menyajikan The Raid 2: Berandal. Tatkala The Raid
cenderung mengalir secara linear dan vertikal dengan jalinan
penceritaan yang seolah hanya ditulis “masuk, bertarung, keluar”, tidak
halnya dengan The Raid 2: Berandal. Tatanan naskah mendapat
perhatian lebih, untuk sekali ini, menjawab keluhan sejumlah penonton
yang merasa plot film pertama kelewat ‘kering’. Ada sesuatu lain yang
kudu disimak oleh penonton tatkala melihat darah yang menyembur
kemana-mana dan mendengar tulang-tulang retak. Konflik yang dikedepankan
terbilang cukup kompleks dengan melibatkan tidak hanya satu tokoh...
tetapi berbagai macam tokoh! Jika sebelumnya Rama hanya perlu mewaspadai
Tama dan Mad Dog (yang legendaris itu), maka di kasus ini, Rama kudu
berhadapan dengan Uco, Bangun, Eka (Oka Antara), dan Bejo (Alex Abbad).
Oh, bahkan saya belum menyebutkan The Assassin (Cecep Arif Rahman) yang
tak kalah beringas dari Mad Dog, kakak beradik maha sadis Hammer Girl
(Julie Estelle) dan Baseball Bat Man (Very Tri Yulisman), serta pihak
keluarga Goto!
The Raid 2: Berandal
memang menghabiskan sebagian besar waktunya di paruh pertama untuk
berceloteh seputar dunia kelam yang akan disinggahi Rama untuk
sementara. Apakah ini berarti menjemukan? Tidak juga. Beragam intrik
yang dikulik – walau tak saya pungkiri, ada kalanya terasa kelewat
panjang – mampu membetot perhatian dan memberi rasa penasaran terhadap
penonton untuk mengikuti lebih jauh. Film pun tak hanya berada di ranah action, namun juga merangkul crime-thriller.
Penggalian kisah ini memang memberikan dampak kepada gelaran aksi yang
tidak lagi tanpa putus seperti sang pendahulu, namun Anda tak perlu
risau jilid kedua ini akan menjadi kekurangan amunisi. Bahkan di
tengah-tengah percakapan yang seolah berlangsung ‘aman-aman saja’,
pertumpahan darah bisa saja terjadi. Anda tidak pernah bisa menebak
kapan dan dimana pertarungan akan berlangsung.
Setidaknya ada tiga pertarungan akbar dalam The Raid 2: Berandal yang begitu membekas hingga saya melangkahkan kaki ke luar gedung bioskop; ‘mud’, ‘threesome’, dan ‘kitchen’.
Ya, saya sengaja menyebutnya dalam bentuk kode lantaran tak ingin
merusak kesenangan Anda sebelum mencicipi film ini. Yang jelas,
ketiganya dirangkai menggunakan koreografi rumit yang membutuhkan
presisi, tangkapan kamera yang dinamis, editing yang cekatan, dan alunan
musik skoring yang menghentak, sehingga saat menyaksikannya... sungguh
sulit untuk bernafas! Berlangsung sedemikian intens-nya, Anda mungkin
akan bersorak sorai dan bertepuk tangan saat segalanya berakhir. Evans
menggambarkannya menjadi lebih liar, lebih menggila, lebih brutal, lebih
indah (ditilik dari sisi style), dan lebih megah dari sebelumnya. Jika Anda menganggap penghancuran shelter busway – terlihat di trailer – sudah terasa wow, percayalah... itu tidak ada apa-apanya dengan semua kekacauan yang terjadi di sini!
The Raid 2: Berandal
menunjukkan bagaimana sebuah sekuel seharusnya dibuat. Seluruh elemen
terbaik yang dimiliki oleh seri pembukanya dihadirkan kembali untuk
kemudian ditambah elemen baru yang belum pernah disaksikan sebelumnya.
Beragam bentuk bela diri dalam bentuk hantaman, pukulan, tendangan,
sampai bacokan yang berlangsung dimanapun (klub malam, rumah makan,
koridor sempit, klub malam, dan pabrik pembuatan film porno) kapanpun
tentu ada di sini, tapi tahukah Anda bahwa film produksi Merantau Films
ini juga mempunyai salah satu car chase scene terkeren yang pernah ada? Dan, oh... The Raid 2: Berandal
pun menghadirkan performa cantik dari para pelakonnya yang
dipersembahkan oleh Arifin Putra, Alex Abbad dan Julie Estelle. Bahkan,
yang lebih mengesankan adalah, dengan durasi yang merentang panjang
hingga mencapai 148 menit, The Raid 2: Berandal sama sekali tidak terasa membosankan atau melelahkan. Malah, saya ingin menontonnya lagi dan lagi. Sangat memuaskan.
Morbi leo risus, porta ac consectetur ac, vestibulum at eros. Fusce dapibus, tellus ac cursus commodo, tortor mauris condimentum nibh, ut fermentum massa justo sit amet risus.